Senin, 09 September 2013

Baking with Love

catatan april 2013

Walaupun tidak suka berlama-lama berkutat di dapur tapi saya gampang tergoda untuk membeli beragam peralatan  dan buku resep kue, terlebih jika sedang diskon, bisa kalap. Tak heran jika peralatan kue saya cukup lengkap, loyang beragam ukuran,  cetakan biskuit, muffin, kue lumpur, kue pukis, bahkan loyang martabak manis berukuran mini  yang terbuat besi cor  seperti loyang milik pedagang martabak sungguhan.
Soal mempraktikannya sebulan sekalipun tidak.  Kue jagoan saya hanya dua brownies kukus dan bolu tape. Karena gampang dan praktis membuatnya. Untuk segala kesempatan saya mempraktikan kue ini. Acara arisan ibu-ibu rt, menyambut orangtua, mertua, saudara yang berkunjung  atau  teman yang berkunjung ke rumah.

Suatu hari Azka merengek untuk dibuatkan Rainbow Cake. Permintaan yang kerap direngekan Azka Zahra (5 tahun). Ide yang datang karena Azka kerap melihat tetangga sebelah rumah kami, bu Putu, membuat pesanan rainbow cake. Tetangga saya yang satu ini memang pandai membuat beragam kue dan cake.
“Mama kan punya pengocok dan oven?”

“Iya, tapi bikin rainbow cake itu gak gampang,” elak saya yang pada dasarnya tidak cukup percaya diri mempraktikkan resep cake. Haduh, tobat deh nak.
“Kita bikin kue coklat aja ya?” tawar saya untuk meredakan rengekan Azka. Kue coklat adalah sebutan Azka untuk brownies kukus.

“Aku gak mau kue coklat,” kata Azka masih dengan nada merengek.

“Mama belum beli bahan kue rainbow cake,” saya kembali mengelak. Tak terbayangkan membuat cake berlapis-lapis, walaupun tahu caranya setelah melihat bu Putu membuatnya yaitu membagi adonan cake menjadi tujuh dan mewarnainya dengan warna-warna berbeda lalu  memanggang satu persatu untuk kemudian di tumpuk dengan  bantuan krim. Terlihat mudah tapi untuk tangan dan insting saya yang tak terbiasa membuat kue pasti tidak mudah. 

Akhirnya dengan muka di tekuk Azka mengikuti saran saya membuat kue coklat. Begitulah setiap kali Azka merengek meminta dibuatkan rainbow cake, saya mengalihkannya dengan membuatkan beragam kue atau cemilan praktis lain seperti pan cake atau bolu tape.

selalu semangat bantu mama bikin kue :)

Sampai suatu hari saya tidak bisa lagi mengelak, “Mama, beli bahan rainbow cake ya, jangan lupa,” kata Azka saat kami mengajaknya belanja bulanan.
“Azka, mama tidak bisa membuat rainbow cake, kita beli aja ya.”

“Kata mama gak boleh bilang gak bisa harus coba dulu. Jadi mama harus coba dulu.” Duh kok jadi membalikkan nasehat mama sich nak.

Dengan alasan hemat, saya membeli empat pewarna warna dasar, karena toh pewarna-pewarna itu hanya saya pakai sekali. Warna sekunder seperti  ungu    bisa dibuat dengan mengkombinasikan warna  biru   dan warna merah. Tapi ternyata pencampuran warna yang saya lakukan tidak menghasilkan warna sesuai teori. Warna yang terbentuk gak karuan.

“Mama, kok warnanya gini sich,” tanya Azka saat melihat beberapa lapisan cake yang sudah saya susun dan tengah di beri hiasan whipedcream dan potongan stroberi dengan susah payah agar rapih. “Mama kuenya gak cantik,” lanjut Azka dengan raut muka hampir menangis. Komentar Azka membuat saya menciut terlebih karena rasa bersalah.

Hingga berjam-jam Azka masih mengatupkan mulutnya rapat-rapat karena kecewa. Saat saya menawari untuk memotong kuenya, Azka menolak. Akhirnya saya berinisiatif memotong-motongnya dan menghidangkannya saat menonton.

“Kuenya lumayan enak, Ma,” komentar suami.
Azka yang duduk di samping Papanya menoleh dengan penuh rasa ingin tahu sebelum akhirnya mencomot satu potong kue dan mengunyahnya. “Kue buatan Mama enak ya, Pa.”

Ehm, ternyata tak harus jadi chef handal untuk bisa membuat lidah keluarga bergoyang dan selalu rindu dapur rumah. Cukup membuatnya dengan penuh cinta. Soal estetika atau penampilan, bisa menyusul. Jadi tak sabar untuk mencoba mempraktikkan resep lain.


6 komentar:

  1. penampakan kuenya mana, Mbak? :D

    Jd skrg udah mulai ketagihan bikin kue, ya

    BalasHapus
  2. Bener Mak, Rainbow cake memang menarik perhatian anak-anak terutama anak cewek. Daku juga hanya sekali buat abis itu males buat lagi. pake dicicil lagi, sore ke malam bikin cakenya, besok pagi ke siang baru menghisnya. Mana waktu itu daku pake pewarna alami semua. duh, kalau disuruh buat lagi daku menyeraaah ^^.

    BalasHapus
  3. Saya catet kuncinya itu Mbak: membuat dengan sepenuh cinta :)

    BalasHapus
  4. Rainbow cake memang menarik bagi anak2 karena warnanya emang ngejreng banget kan ya?

    BalasHapus
  5. saya suka sama kata2nya mak, di paragraf terakhir.... :)

    BalasHapus