Tampilkan postingan dengan label blog competition. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog competition. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juni 2015

Lima alasan, saya memilih Mi Tropicana Slim

Sebagai seorang Ibu dan istri, saya lebih banyak membuat keputusan dan pilihan yang menyangkut 'rumah' di banding suami. Soal pengeluaran/membeli  ini itu, memutuskan menu makan setiap harinya, termasuk memilih produk untuk di pakai atau di konsumsi. Memilih dan memutuskan sesuatu bukan tanpa pertimbangan lho. Selalu ada alasan di balik setiap pilihan dari mulai alasan keuangan, kepraktisan dan tentu saja kesehatan. Saya percaya  bahwa sehat berawal dari rumah. Dari rumahlah pembiasaan dan konsep sehat di tanamkan.

Bicara soal mi instan, siapa yang tak suka? Rasanya sangat jarang ya, atau mungkin tidak ada yang tidak suka.  Mi instan, makanan paling populer di Indonesia. Dari anak-anak hingga orangtua suka. Dan untuk urusan mi instan saya pun harus memilih dengan alasan kesehatan, terlebih Papanya anak-anak yang paling suka  tapi dengan alasan khawatir menambah berat badannya ( hasil medical chek up di kantornya merekomendasikan ia untuk  diet J), saya awasi konsumsinya begitupun terhadap anak-anak. 

Tapi kini saya tidak khawatir jika  Papanya anak-anak sesekali makan mi instan asal Mi Kering Tropicana Slim

Berikut lima alasan saya memilih Mi Kering Tropicana Slim;

mi sehat pilihan keluarga

1. Halal 
Pada kemasan Mi Kering Tropicana Slim terdapat logo halal MUI, artinya di proses dan menggunakan bahan halal. Ini memenuhi kriteria makanan untuk saya sebagai seorang muslim.

halal
2. Rendah Lemak 
Kandungan lemak dari  Mi Tropicana Slim 5g atau setara dengan 8% AKG, lebih  rendah di banding mi instan lain. Hal ini disebabkan, mi yang diolah dari terigu di keringkan dengan cara di panggang (di oven)  bukan dengan cara di goreng seperti pada umumnya. Proses penggorengan inilah yang membuat kadar mi instan memiliki kadar lemak tinggi.

Proses pengeringan dengan cara di panggang lebih mahal di banding dengan cara di goreng, mungkin ini yang menyebabkan Mi  Tropicana Slim lebih mahal.  Tapi pilihannya ada pada kita sebagai konsumen pilih yang sedikit mahal tapi sehat atau sebaliknya?

Rendahnya kandungan lemak Mi Tropicana Slim selain dapat di lihat dari angka yang tertera di tabel informasi gizi pada kemasan, juga terlihat dari air bekas rebusannya yang lebih bening dan tidak pekat warna kuningnya.
   
Apa efeknya mengkonsumsi makanan dengan kadar lemak tinggi?
Lemak di butuhkan tubuh dalam proses metabolisme. Namun jika berlebih atau lemak yang masuk ke tubuh adalah jenis lemak  jenuh dapat menyebabkan peningkatan berat badan  dan meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol buruk) dalam darah dan mengganggu kesehatan jantung. Lemak sehat atau lemak tak jenuh tunggal/ganda umumnya terdapat dalam ikan.

3. Rendah Garam 
Garam di sini berujuk pada kandungan natrium yang biasanya di tambahkan ke dalam makanan melalui penambahan  garam dapur   atau MSG (monosodium glutamat). Tubuh membutuhkan natrium untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, transmisi saraf dan kontraksi otot.  Namun asupan natrium yang berlebih dapat menyebabkan hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Kandungan natrium Mi Tropicana Slim 480 mg atau 20% AKG,  umumnya kisaran natrium mi instan lain 950 hingga 1500 mg. 

Sedikitnya kandungan natrium dari Mi Kering Tropicana Slim,  dugaan saya bumbunya dikurangi penambahan garam dan MSG nya. Tapi bukan berarti rasanya menjadi  tidak gurih lho, tetap gurih tapi tidak giung – kalau istilah orang sunda mah. (tidak giung = tidak terlalu).

4. Rendah Kalori
Kalori adalah satuan energi yang di butuhkan tubuh. Energi untuk tubuh menjalankan aktivitasnya. Sumber kalori adalah dari makanan yang di konsumsi dan sumber kalori paling besar berasal dari lemak.

Kebutuhan kalori setiap orang berbeda tergantung usia, jenis kelamin, tinggi badan dan aktivitas. Kebutuhan kalori orang dewasa sehat rata-rata sekitar 2000 kkal setiap hari. Kelebihan kalori dapat menyebabkan peningkatan berat badan.

Kandungan kalori rendah dari Mi  Tropicana Slim (240 kkal)  cocok untuk yang ingin menikmati mi tanpa takut berat badan naik atau yang tengah diet.

Berikut adalah tabel perbandingan Mi Kering Tropicana Slim dengan mi instan lain, tabel saya ambil dari www.tropicanaslim.com
5. Diperkaya serat pangan dan vitamin.
Mi Tropicana Slim di perkaya serat pangan dan vitamin. Besarnya serat pangan dan vitamin terdapat dalam tabel informasi gizi yang tertera pada kemasan yaitu serat pangan 3 gram atau 12% AKG, Vitamin A  atau 10% AKG. Berikut tabel informasi nilai gizi mi kering Tropicana Slim less fat nooddles grilled chicken (ayam bakar)

sumber www.tropicanaslim.com

AKG atau angka kecukupan gizi dalam % yang tercantum pada kemasan ini  adalah nilai AKG untuk kebutuhan energi 2000 kkal, artinya nilai AKG untuk orang dewasa secara umum pada kondisi sehat. Misal untuk serat pangan sebanyak 12% AKG artinya Mi Tropicana Slim mencukup kebutuhan serat pangan sebanyak 12% dari total kebutuhan satu hari (100%).  Begitupula dengan AKG Vitamin A -10%, artinya 10% kebutuhan vitamin A terpenuhi dari makanan ini jika kita mengkonsumsinya.

Untuk itu sangat disarankan  Mi Kering Tropicana Slim di sajikan dengan pelengkap sumber gizi lain, seperti sayuran sebagai sumber vitamin dan mineral. Dan sumber protein seperti telur atau daging, sehingga Mi menjadi kaya gizi. 

sajikan dengan pelengkap agar lebih kaya gizi
Oh ya Mi Kering Tropicana Slim terdiri dari dua varian yaitu less fat noodles ayam bakar dan low fat noodles roasted duck. Informasi nilai gizi yang saya cantumkan di atas adalah dari less fat noodles ayam bakar, untuk informasi nilai gizi low fat noodles roasted duck tidak jauh berbeda, sama-sama rendah lemak, rendah garam, rendah kalori dan diperkaya serat pangan dan mineral.  




referensi tulisan
www.tropicanaslim.com
www.health.kompas.com



Minggu, 26 April 2015

Mengajak si kecil menJelajah Rasa

Memasak bersama si kecil
Momen memasak khususnya praktik membuat kue selalu membawa kesan tersendiri untuk saya. Bisa di bilang saya pemula di dunia dapur, baru mulai praktik beragam macam kue dan masakan  sejak memutuskan kerja di rumah. Alasan ingin bisa masak simple, ingin membuat keluarga senang dan sehat dengan cara hemat, singkatnya memasak adalah salah satu bentuk Curahatan Rasa sayang saya untuk keluarga.

Saya  selalu melibatkan anak-anak saat memasak terutama saat membuat kue, karena itu cara mengisi waktu mereka dengan bermain sambil belajar. Mereka pun sangat senang dan antusias. Tapi saya bukan mama sempurna dan super sabar, jadi walaupun tahu resikonya melibatkan anak-anak  jadi  berantakan dan  kotor,  kadang mengeluh capek dan kesal. 

Pelan-pelan, De

Minggu, 11 Mei 2014

Bermain itu seru dan asik!

Putri kami Azka sulit sekali di minta tidur siang dan mulai menular pada adiknya Khalifah (2y6m). Bukan karena tidak bisa lepas dari gadget atau nonton lho. Untuk dua hal itu saya cukup ketat. Gadget hanya weekend, hari biasa kalau  kepepet, misal untuk meredakan tangisan Khalifah saat ditinggal sholat atau masak.

Nonton saya satu jam pulang sekolah dan satu jam sebelum magrib. Sisanya kalaupun tidak tidur siang, no tv no gadget. Jadi apa yang dilakukan Azka jika tidak tidur siang? Azka tak pernah kehabisan ide untuk main sendiri atau berdua Khalifah, apalagi jika sama teman-temannya, rumah dan pekarangan  jadi kapal pecah.
Ancaman, kalau tidak tidur siang, nanti sore tidak boleh nonton tidak mempan. Jadi biasanya saya memaksa Azka tidur dengan mengeloninya, tapi tidak selalu berhasil, lebih seringnya saya ketiduran, Azka bangun dan main sendiri.  Niatnya mencoba tegas tapi sering berujung emosional. Memarahinya lalu menyesalinya. Akhirnya, saya lebih sering membiarkan Azka tidak tidur siang.



Sisi positif hobi bermain Azka yang saya lihat dan sangat menonjol adalah, ia tumbuh menjadi anak yang cukup percaya diri. Tidak  perlu waktu lama beradaptasi jika kami bawa ke tempat baru. Misal ke mall, tempat eduwisata, ke rumah kerabat atau teman kami (saya atau suami). Jika dia melihat anak seusianya ada di sekitar situ, dia akan berinisiatif mendekatinya, awalnya dengan wajah malu-malu sambil senyum-senyum, tak lama terlihat keduanya tertawa-tawa. Sayangnya Azka selalu lupa menanyakan nama teman barunya. Dan tak takut mencoba hal baru dan suka berimajinasi.


Menonton video Kids Today Project dari Rinso Menjadi Seorang Anak Kecil Indonesia makin membuat saya belajar melihat dunia bermain anak-anak dari kaca mata mereka. Tak memaksakan kehendak tapi tak bosan menasehati dengan penjelasan sebab akibat. Membantu memuaskan keingintahuan mereka walaupun rumah jadi berantakan dan pakaian mereka kotor. Saya pun jadi ingin tahu kenapa Azka suka sekali bermain,”Kenapa sih pengen main terus?” sebuah pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

“Soalnya main itu seru dan asik!” jawab Azka sambil nyengir.



Semoga bukan hanya saya, mama yang terinspirasi dengan video - video kampanya Kids Today Project Rinso Indonesia. Menginspirasi untuk belajar memahami dan memandang dunia anak-anak dari kaca mata mereka. Tidak mudah memberi label nakal karena paham bermain adalah cara mereka belajar. 

Tulisan ini diikutsertkan dalam kompetisi blog Kids Today Project Rinso Indonesia

Sabtu, 10 Mei 2014

Kebutuhan Rasa Aman Anak-anak



Menonton video kids Today Project yang di gagas Rinso membuat saya merenung. Bagaimana kedua si kecil saya beradaptasi dengan ‘keriuhan’ kota besar di mana mereka tinggal.  Bisa dikatakan, saya memaksa anak-anak beradaptasi. Dari soal macet, banjir, dan pembatasan area bermain karena khawatir adannya pelaku kejahatan dan penculikan.

Si kecil Azka sudah merasai berdesakan di komuterline dan busway. Dengan polosnya dia berteriak,”Mama, panas banget sih!” “Mama, kok bisnya gak jalan-jalan. “
Pada saat bersamaan, Azka memasuki tahap merasa dirinya sudah besar dan bisa melakukan segalanya sendiri, termasuk melindungi diri sendiri. 

“Ok, nanti kalau ada yang pegang-pegang, aku tendang, Ma.” Atau,”Ma, aku bisa kok ke warung sendiri, kalau ada penculik, aku nendang dan pukul saja.” Atau,”Kalau ada mobil atau motor aku kepinggir kok, Ma.”

“Kalau gak ada penculik aku boleh pergi sendiri ke mana-mana ya, Ma.”
“Iya.”

“Kalau aku nanti jadi polisi, aku tangkap semua penculik anak kecil.” Yap, si kecil Azka ingin bisa bermain, ke warung, dan  sepeda keliling komplek sendiri dengan rasa aman tak heran, Azka kerap berkhayal jika sudah besar Azka ingin menangkap penculik dan pelaku kejahatan, menjadi polisi. Walaupun cita-citanya masih berubah-rubah tapi jika menyangkut kata penjahat dan penculik, seketika keinginannya menjadi polisi mencuat.



Keamanan anak-anak tanggung jawab siapakah?
Saya yakin, semua orangtua khususnya yang memiliki anak kecil, memiliki kekhawatiran yang sama dengan dengan saya. Apakah anak-anak kita aman saat melepaskan untuk bersekolah dan main? Terlebih setelah ada beberapa kasus pelecehan seksual terhadap anak baru-baru ini.

Anak-anak umumnya belum  menyadari bahaya pelecehan seksual yang mengintai mereka  karena mereka belum paham. Seperti rentetan pertanyaan Azka (6y) saat saya menerangkan soal bagian tubuhnya yang harus di tutup dan dilindungi. Kenapa di sebut daerah pribadi, Ma? Kenapa orang mau memegangnya, Ma? Di sakiti gimana, Ma?

Menurut saya rasa aman yang dibutuhkan seorang anak agar bisa menikmati masa ‘bermainnya’ dan tumbuh kembangnya optimal, haruslah di bangun secara kolektif, tidak cukup dengan pembekalan dari orangtua, sistem harus mendukung. Menciptakan sistem agar sekolah aman dari kasus pelecehan seksual dan kekerasan. Bukan hanya mengandalkan teknologi tapi membangun komunikasi antara guru, murid dan wali murid dengan intens dan efektif. Mungkin di sini peran POMG  (persatuan orangtua murid dan guru) yang ada di tiap sekolah perlu ditingkatkan.

Dan sistem dalam pemerintahan yang mendukung agar pelaku pelecehan seksual dan kekerasan pada anak dihukum berat.

Saya berharap video Rinso Kids Today Project ini menggugah semua pihak, bahwa anak-anak perlu dukungan kita, orangtua dan sistem, untuk beradaptasi dengan ‘keriuhan’ kota dan menciptakan rasa aman untuk tumbuh kembangnya.


Anak adalah tunas dan generasi penerus bangsa, apa jadinya jika sebagian dari mereka tumbuh dalam kondisi trauma atau kungkungan ketakutan karena sistem tidak mendukung  mereka merasa aman?  Masa bermain mereka akan hilang yang artinya salah satu proses pembelajaran alamiah mereka mati.

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KidsTodayProject Rinso Indonesia

Senin, 05 Mei 2014

Tetaplah Tersenyum, Nak...


Setelah menonton Rinso Kids Today Project di atas, saya jadi teringat ekspresi Azka Zahra (6y) putri kami,  tiga hari lalu. Waktu itu dia merengek minta main air banjir. Perumahan kami memang selalu tergenang banjir setiap kali hujan tapi tak pernah sampai masuk rumah, air itu berasal dari luapan saluran air. Saya tidak langsung meluruskan permintaanya. Minggu-minggu pertama kami pindah ke sini, sekitar 10 bulan lalu, kami suka meluruskan permintaan mereka main air banjir, alasannya biar mereka merasakan sensasinya.

main banjir
Namun dengan pertimbangan kesehatan, periode itu kami kurangi sampai akhirnya melarangnya. Kalau pun memberi ijin  main hujan-hujanan tidak di depan rumah, tapi di pekarangan belakang yang berlantai semen, jadi  tidak terkontaminasi air banjir.

Saya melongokkan badan melalui daun pintu. Hujan  sudah reda, air di depan rumah sudah menurut tinggal semata kaki.
“Mama, tapi kan aku sudah lama tidak main banjir? Ya, ma...ya, ma
“Oke, tapi sebentar.”

Seketika mata Azka terbelalak detik berikutnya berteriak sambil berbalik,”Horee!”

Satu jam berikutnya saya menggerutui Azka karena ternyata dia tidak sekedar main air, tapi setengah berenang, setengah badan dan bajunya  penuh lumpur. Azka menekuk wajahnya saat saya menggerutuinya.

Saat menonton video  dan menuliskan ini, Azka sedang sekolah. Saya ingin memeluknya dan meminta maaf.

Saya baru sadar jika setiap anak memiliki wajah ‘bermain’. Ya, saya melihat kebahagian, rasa excited, dan mendengar renyahnya tawa si kecil  saat bermain tapi tak pernah bersungguh-sungguh berpikir apa sesungguhnya yang ada di benak mereka. Sebesar apakah kebahagian yang mereka pancarkan di raut wajahnya saat itu. Dan sebesar apa rasa kecewa dan sakit hatinya jika saat menggerutu atau memarahinya saat mereka pulang dengan  pakaiannya kotor atau membuat rumah menjadi berantakan.

Saya membuka album foto di komputer, mencari-cari ekspresi wajah bermain keduanya .

wajah 'bermain' Azka
wajah 'bermain' Khalif
Dan bukan sekedar wajah bermain yang saya lihat, juga  apa yang tengah mereka  pelajari. Belajar bersosialisasi dengan teman sebaya, belajar mencuci, belajar bagaimana terjadi hujan dan banjir, belajar makan sendiri, belajar berenang dan berkhayal. Belajaran yang tidak bisa di dapat dengan hanya duduk manis dan berpakaian rapih.

Semoga saya selalu diingatkan dan diberi kesabaran, saat mereka menghampiri dengan wajah 'bermain' namun dalam keadaan kotor atau membuat rumtah berantakan, bahwa mereka tak sekedar bermain tapi mengecap pengalaman baru, berpetualang dan belajar. Dan mereka butuh dukungan saya sebagai orangtuanya, karena besok dan besok dan besok mereka akan ‘berpetualang’ kembali. Playing is the beginning knowledge. Saya ingin melihat wajah 'bermain' mereka setiap hari, sebelum waktu bergegas menarik mereka menjadi dewasa.

urusan baju kotor serahkan pada ahlinya :)

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KidsTodayProject Rinso Indonesia

Jumat, 25 April 2014

Sehari Tanpa Internet?! Sama dengan Membuang Uang, Waktu dan Kesempatan

Pertama kali mengenal internet sekitar tahun 2000- an, saat itu internet masih jadi ‘barang mahal’. Untuk bisa mengaksesnya harus ke warnet atau kalau mau gratisan ke perpustakaan jurusan tapi ngantri. Saya mengaksesnya hanya untuk mencari literatur atau jurnal ilmiah untuk tugas akhir (skripsi). Memasuki dunia kerja, bisa agak leluasa menggunakan internet di kantor, selain untuk  email dan urusan pekerjaan juga mulai kenal blog dan friendster. Baru pada tahun 2009, saya benar-benar leluasa mengakses internet karena saat itu saya  menempati rumah baru, memasang telpon rumah plus berlangganan  internet, setelah sebelumnya mendapat promo gratis (plus  modem tentunya) selama 3 bulan.


Suatu hari, modem saya sukses tersambar petir dan harus menunggu beberapa hari untuk bisa kembali normal. Setelah petugas menyatakan modem tidak bisa diperbaiki dan harus membeli yang baru. Untunglah saya masih bisa mengakses internet di kantor.

Jika sehari tanpa internet?! Ehm, apa rasanya ya...Yang pasti jika sehari tanpa internet terjadi secara global di seluruh dunia, akan kacau balau. Bagaimana tidak, semua transaksi perbankan terkoneksi dengan internet, sistem suplay chain manajement di perusahaan-perusahaan terhubung dengan internet agar terkoneksi dengan departemen terkait atau perusahaan cabang di luar negeri, sistem pembayaran beragam tagihan rumah tangga seperti air, listrik, telpon  dan leasing. Ribuan pesan dan transaksi jual beli online terhenti. Jadwal penerbangan terhenti. Terbayang kan berapa kerugian yang bisa terjadi? Atau malah mungkin terjadi chaos.

Dan internet tidak hanya penting untuk urusan pekerjaan formal di kantor-kantor, pelaku online shop, para pelajar atau mahasiswa.

Rabu, 23 April 2014

Mengenalkan Keanekaragaman Budaya Pada si Kecil Melalui TMII

Kunjungan ke Museum Indonesia di TMII

foto dokumentasi pribadi
Beberapa waktu lalu kami mengajak di kecil Azka Zahra (5y6m) ke Museum Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Awalnya sempat ragu mengajak Azka ke sana. Apa tidak akan membuatnya bosan karena apa yang dilihatnya di sana mungkin tidak menarik untuknya? Apa tidak akan membuatnya pusing karena apa yang dilihatnya tidak ia pahami maksudnya? Tapi ternyata kami salah. Azka antusias pada setiap artepak dan manikem yang dilihatnya. Terlebih ketika kami  sampai di bagian kekhasan daerah yang dimiliki saya dan Abinya (panggilan Azka untuk papanya). Ini lho baju padang, ini lho baju khas sunda, ini lho alat musik angklung, gamelan dan seterusnya. 

Yap, saat menginjak usia batita dan Azka mulai memahami apa yang didengarnya, dilihat dan diucapkannya, Azka mulai  sadar jika mama dan Abinya ‘beda’. Ia terheran-heran saat di Bandung (berlibur atau mudik) saya bicara dalam bahasa sunda dengan seluruh kerabat dan anggota keluarga di sana. Saat di Jakarta, Azka mengernyitkan dahi dengan bahasa dan logat bicara Abi dan kerabat di sana.

Minggu, 16 Februari 2014

Stimulasi Kecerdasan dengan cara Seru



Playing is the begining knowledge. Melalui permainan  si kecil belajar banyak hal dengan cara menyenangkan, tidak hanya menstimulasi kecerdasan juga daya konsentrasi anak.


Konsentrasi atau pemusatan pikiran pada satu tujuan berperan penting saat memberikan stimulasi kecerdasan anak, anak dengan rentang konsentrasi panjang bisa menyerap sebuah stimulus dan melakukan suatu hal secara mudah dengan hasil memuaskan.


Beberapa permainan yang menstimulasi kecerdasan dan daya konsentrasi  yang disukai Azka Zahra (4y10m) putri kami ;


Bermain  peran
 
Setelah membacakan sebuah cerita/dongeng, saya meminta Azka berpura-pura menjadi tokoh yang ada dalam cerita itu dan mengulang salah satu adegan dalam cerita itu  atau menirukan suara dan gerak gerik binatang yang menjadi tokoh utama.

Misal, meminta Azka menjadi Wendy yang bersedih karena harus pulang meninggalkan negeri neverland di mana Peterpan berada. Dialog dilakukan secara spontan dan improvisasi.



Permainan  ini mendorong Azka berkonsentrasi mendengarkan cerita yang saya bacakan, membayangkan dan mengingat-ngingat percakapan para tokohnya. Singkat kata permainan ini menstimulasi kecerdasan bahasa, visual spacial (imajinasi) dan melatih saya konsentrasi Azka. 


Ma, lihat, aku jadi kucing , kata Azka

Melalui buku cerita juga saya menanamkan nilai kebajikan dan moral.



Berpetualang seperti Dora the explorer.
 
Dora dan Diego adalah tokoh kartun favorit Azka dan sampai saat ini Azka masih percaya kalau Diego dan Dora itu, ada seperti dirinya (bukan tokoh khayalan) J ini membuat Azka senang bermain  di luar rumah dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Tak perlu dua kali mengajak Azka melakukan permainan  hujan-hujan (tapi lengkap memakai sepatu boot, payung dan jas hujan J) atau layang-layang.


Cara ini menstimulasi kecerdasan naturalis dan gerak tubuh (motorik) Azka. Azka menjadi mudah memahami fenomena alam ketika saya memberikan penjelasan dan mengenal gejala alam. Seperti mendung tanda akan hujan, pelangi akan muncul setelah hujan dan sampah di sungai yang bisa mengakibatkan banjir.


Bermain di luar rumah juga membuat Azka berinteraksi dengan banyak teman sebaya dan ini membuat Azka belajar konsep meminjam, berbagi, bergantian dan memahami orang lain. Singkat kata, ini melatih kecerdasan interpersonal dan intrapersonal Azka.




bermain layang-layang bersama angin

Hujan hujanan
Permainan  gunting tempel, membuat origami dan membuat kreasi mister maker. 

Adalah cara saya mengasah daya imajinasi dan kreatifitas Azka.  Selain itu, permainan kreatif ini membuat motorik halus Azka berkembang cukup baik.

Hasil kreasi Azka


1.    Masak-masakan

Membiarkan Azka berimajinasi dan mengasah kecerdasan interpesonalnya karena bermain dengan temna sebayanya.

2.   Petak umpet

Permaian  favorit kami adalah petak umpet. Khalif tentu saja ikut serta, jadi saya bersembunyi atau menjadi kucingnya dengan Khalif dalam gendongan. Ini melatih imajinasi anak.
4. 


Saya percaya kedekatan emosi antara saya dan anak-anak berpengaruh besar terhadap perkembangan emosi mereka.



Beribadah bersama adalah cara saya merangsang kecerdasan spiritualnya.



Stimulasi semua kecerdasan anak  tentu bukan karena menginginkan mereka menjadi orang super tapi mencari potensi  kecerdasan terbesar yang dimilikinya (bakat) yang kelak akan menjadi skill untuk bekal kehidupannya (profesi)  yang perlu di topang oleh potensi kecerdasan lain dengan porsi berbeda. 

Ya, saya menginginkan si kecil Azka Zahra (4y10m) kelak sukses dalam kehidupannya. Sukses dalam arti luas; mandiri, berpengaruh positif pada lingkungan sekitarnya, cerdas secara spiritual, tangguh dan bahagia. Untuk mencapai itu saya perlu menstimulasi semua kecerdasan yang dimiliki Azka.


Nutrisi untuk Kecerdasan

Stimulasi  yang saya berikan tidak  akan membuat tumbuh kembang mereka optimal jika tidak dibarengi dengan pemberian nutrisi yang tepat.  Salah satunya DHA atau asama lemak omega 3 yang membantu   pertumbuhan otak, melindungi sel –sel otak serta memastikan otak dan retina mata bekerja dengan optimal. 



Stimulasi pun harus dibangun  dalam suasana hangat, penuh cinta dan kasih sayang. Atau penerapan  pola asah, asih dan asuh.  Karena merawat dan mengasuh anak dengan melibatkan perasaan cinta dan kasih sayang membantu tumbuh kembang dan kecerdasan anak lebih optimal.