Tampilkan postingan dengan label Azka Azzahra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Azka Azzahra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2015

Catatan Perjalanan Azka

Buku dan pencil/balpoit adalah salah satu barang yang kami sarankan untuk di bawa Azka saat bepergian, tujuan yak lain untuk corat-coret mengisi waktu perjalanan agar tidak main gadget. Kebetulan juga Azka senang membuat gambar-gambar.


Dan inilah hasil catatan perjalanan Azka saat kami liburan ke Anyer akhir tahun lalu (latepost). Dia menulis tanpa sepengetahuan saya, jadi agak kaget saat Azka memperlihatkan catatan ini (saat di perlihatkan masih setengahnya) pada kami pada malam hari menjelang tidur di penginapan. 

Senin, 22 Desember 2014

Bu Wulan #PosBarHariIbu

Suatu hari 6 bulan lalu

Jam 6 pagi saya mengantarkan Azka ke sekolah. setelah memakaikan Azka baru menari  dan memastikan sudah duduk di barisan  antrian untuk di rias saya meninggalkannya, pulang ke rumah dengan langkah tergesa. Khawatir adiknya Khalif terbangun. Jarak dari rumah ke sekolah Azka cukup dekat bisa di tempuh dengan jalan kaki.

Hari itu hari perpisahan sekolah taman kanak-kanak, semua anak naik ke panggung menampilkan kreasi seni, menari dan menyanyi.

Azka akan tampil menari dengan beberapa temannya. Azka sangat suka menari, sebelumnya di ajang lomba menari antar tk seciputat Azka dan temannya-temannya menyandang gelar juara 3. Tak heran jika hari ini ia pun sangat antusias.

Jam setengah sembilan saya, abinya dan adiknya ke sekolah untuk menghadiri perpisahan kelas. Kami di sambut suasana meriah, lagu khas anak-anak, panggung yang hiasi balon dan anak-anak yang lari ke sana-kemari dengan dandanan cantik dan ganteng, memakai kostum untuk tampil di panggung.

Acara berlangsung meriah dan semua orangtua termasuk saya sibuk foto-foto.  Acara di tutup dengan pengumuman siswa-siswi berprestasi dan salaman antara guru, para siswa dan orangtua.

Suasana berubah menjadi haru dan saya tak menyangka Azka pun larut dalam suasana ini. Sepanjang perjalanan pulang Azka murung waktu kami tanya kenapa dia diam saja. Tapi saya bisa menebak kesedihannya. Azka sedih karena ini adalah hari terakhir bertemu teman-teman dan gurunya.

Kami menghibur dan mengatakan di sekolah baru nanti, Azka ketemu bu guru baru dan memiliki banyak teman baru.

Sampai rumah Azka langsung masuk kamarnya dan membenamkan dirinya ke tempat tidur. Saat saya lihat matanya berkaca-kaca.

“Aku sedih karena nanti ga ketemu bu Wulan lagi.” Bu Wulan adalah wali kelas Azka.
Kata Azka bu Wulan ga pernah marah.
“Kalau ada anak yang suka ganggu dan berisik di kelas bu Wulan ga marah?” tanya saya suatu hari.
“Marah tapi ga marah banget kayak Mama.”

Saya benar-benar tak menduga, perpisahannya dengan bu Wulan membuatnya sesedih itu terlebih Azka buka tipe anak yang melankolis alias gampang nangis untuk hal-hal yang berhubungan dengan emosi, cenderung keras.

Dari beberapa kali pertemuan dengan bu Wulan, saya menilai bu Wulan tipe bu guru yang pendiam, senyumnya malu-malu, bicaranya sopan dan halus. Tak heran jika semua murid-murid menyukai dan menyayanginya.

bu Wulan berkerudung coklat



Selasa, 16 Desember 2014

Kak Melati

Sehabis mandi sore, Azka mengenakan pakaian piyama lengan pendek favoritnya. Baju yang tadinya mau saya ‘buang’ karena warnanya sudah pudar dan ketat di tubuh Azka. Tapi Azka melarang katanya masih bagus dan adem. Ehm, baju katun makin lusuh memang makin enak di pakenya ya, adem.  Mungkin itu juga yang dirasakan Azka.
Tapi sore ini agak berbeda, karena Azka mengenakan kerudung warna coklat sambil berkata;

“Aku mau kayak kak Melati pake kerudung.”
“Oh iya bagus donk, tapi kalau dalam rumah ga pake juga ga apa-apa, Mama juga kalau di dalam rumah di buka.”

“Enggak akh, aku mau kayak kak Melati. Kak Melati di rumah juga di pake, aku pernah ngeliat, mau mandi aja di bukanya.”

Selang beberapa jam Azka mengeluh kegerahan. Saya menyarankan membuka kerudungnya. Azka menolak dan masuk ke kamar menyalakan AC. Tak tak ingat kapan tepatnya akhirnya Azka membuka kerudungnya yang pasti saat saya mengajaknya gosok gigi kerudungnya sudah di lepas.

Selang beberapa hari, saat Azka minta ijin akan main ke rumah temannya (masih dalam satu komplek perumahan). Azka mengenakan baju lengan pendek plus kerudung.

“Bajunya kok pendek?”

“Biarin akh, kak Melati juga pernah pake baju pendek, pake kerudung.”

Kak Melati adalah tetangga kami, anak kelas 2 smp, paras wajahnya manis karakternya ramah. Dia selalu menyapa jika bertemu saya di manapun.

Pe-er buat Mama, kurang menarik di jadikan role model oleh Azka  #ambilkaca.


Minggu, 21 September 2014

Surat Cinta Azka

Semenjak pindah kerja hampir setahun lalu, Abi tambah sibuk (super sibuk katanya), pergi pagi pulang malam, paling sore jam setengah sepuluh malam, bukan lembur karena untuk posisinya tak ada lembur. Meeting terus kayak maraton, katanya.

Efeknya, kedua si kecil kami dari senin hingga jumat hanya bertemu Abi tak sampai hitungan jam saat mereka melek, Azka malah tak sempat ketemu karena Azka berangkat sekolah lebih pagi (jemputan sekolah jam 6 pagi) Abi masih tidur (tidur lagi abis sholat shubuh). 

Weekend kemarin terasa istimewa karena saya menemukan surat ini  di atas topi Abi yang tergeletak di meja saat bangun tidur siang. saya pikir suami sudah melihat dan membacanya, jadi saya lipat surah itu dan simpan. sementara suami dan Azka pamit pergi ke pameran IIMS.

Saat malam mereka pulang saya cerita soal surat itu, kagetlah suami, ternyata dia belum tahu dan baca. Terharu, komentarnya.


Senin, 25 Agustus 2014

17 Agustus –an

Bisa dibilang ini pertama kali Azka dan Khalifah merasai kemeriahan 17 agustus. Tahun sebelumnya di perumahan tempat kami tinggal ini tidak ada acara 17 an. Tahun-tahun sebelumnya, saat kami masih tinggal di Bogor, Azka terlalu kecil untuk ikut serta.

Kami mengikutsertakan Azka dan Khalifah lomba merias sepeda. Persiapannya mendadak, malam sebelum hari H kami mencari bahan untuk meriasnya sampai ke pamulang. Seru, karena kita berempat mengerjakannya, sesekali di selingi beda pendapat dan selera. Menurut mama atau Abi bagus, belum tentu menurut Azka dan Khalifah.

Dan inilah sepeda riasnya :




Walaupun kalah, anak-anak senang, karena semua peserta dapat hadiah .


Oh yaKhalifah juara 2 lomba memasukkan bendera. Kaka Azka tidak juara di lomba lain karena kalah saat masuk final dan bersaing dengan anak-anak kelas 3 dan 4 sd.

Senin, 18 Agustus 2014

Mama dan Gadget #celoteh

Akhir-akhir ini mama makin sibuk, gadgetan terhitung sejak gabung di grup WA teman-teman kuliah, bertambah sibuk sejak buku mama lauching. Mama bikin promo kuis d fb.

Sudah berkali-kali Azka dan Khalifah menunjukkan gejala tak suka.
'Ih, mama sms an melulu,' kata Azka sambil mendesah kesal.
kalau Khalifah; Mama, kok mmss an melulu? wajah innocentnya menatap saya dengan penuh rasa ingin tahu.

Keduanya hanya tahu kalau mama pegang hp atau tab ya untuk  sms an, bukan buka medsos (lha iyalah mereka kan gak tahu medsos heheh)

Hari ini Azka kembali protes
"Mama ngapain sih tiap hari sms an melulu, bukannya temenin aku main."
Mama nyengir, meletakkan handphone dan mendekati Azka.
"Mama nanti kemasukan setan lho, abisnya diam melulu." Maksud Azka mama kalau pegang hp atau tab, diam.

Mama lagi pengen eksis, niatnya naikin traking, biar banyak yang kenal mama, kenal blog mama terus ada tawaran postingan berbayar atau nyuruh nulis, begitu Nak.

Tapi teguran ini cukup menyentil mama, untuk bisa menentukan prioritas. Jadi, mama memang harus begadang buat medsos an dan nulis blog.

Kamis, 17 Juli 2014

Sekolah Berangkat Sendiri

Hari keempat sekolah, Azka merengek gak mau dianter mama tapi pengen ngojek. Alasannya udah lama aku gak pergi sekolah sendiri. Saat TK Azka di antar jemput sekolah sama pak satpam perumahan kami dengan motor, langganan ojek perbulan.

Sekolah Azka lumayan jauh jadi kami memutuskan Azka langganan antar jemput mobil sekolah. Tapi mulainya abis lebaran. seminggu ini rencananya mama yang antar tunggu sekolah, supaya kalau ada pengumuman apa-apa dari sekolah mama tahu dan mama mau kenalan sama-sama mama teman Azka supaya kalau ada apa-apa, walaupun jarang nongol di sekolah info soal sekolah up date.

Jadi permintaan Azka naik ojek saya tolak , Azka nangis dan tetap maksa pengen naik ojek sendiri.
Abinya jadi marah dan mengancam Azka gak usah sekolah hari ini. Tangis Azka makin menjadi tapi akhirnya mau dianter mama.

Masa-masa Azka masuk sekolah selalu berlalu tanpa 'drama' Azka pengen dianter dan ditunggu mama, juga saat dia pertama kali masuk play group, mungkin krn terbiasa di tinggal mama kerja. Sekarang mama udah di rumah, kira-kira nanti Khalifah kalau masuk sekolah ada 'drama' gak ya....

Rabu, 16 Juli 2014

Buka Puasa di Mesjid

Azka : Ma, aku nanti buka puasa di mesjid ya?
Pertanyaan ke sekian kalinya selama bulan ramdhan-puasa gak puasa Azka tajil di mesjid karena bersamaan dengan pengajian sore di mesjid usai.
Mama : Iya
Mama gak pernah melarang Azka tajil di mesjid.
Azka : Nanti aku bawain mama hadiah, lontong dua.
Itu baru pertama kali diucapkan Azka padahal setiap tajil di mesjid selalu membawa oleh-oleh lontong isi oncom pedas kesukaan mama hehehe

Selasa, 08 Juli 2014

Ramadhan Pertama

Belajar puasa
Hari pertama Azka puasa ‘full’ sampai sore. Sebenarnya gak full banget, karena sekitar jam 11 Azka dengan sembunyi-sembunyi minum air putih tapi tertangkap basah hehehe. Saya ingatkan kesalahan itu dan memintanya melanjutkan puasa sampai magrib.
Hari kedua, sebelum jam 10 pagi Azka sudha merengek minta buka karena melihat adiknya makan. Kami menahan keinginannya sampai jam 12 siang.
Hari ketiga, Azka puasa ‘full’, tapi pas adiknya bangun tidur (pagi) Azka mengajak adiknya minum susu kotak barengan. Waktu saya tegur dengan polos Azka bilang,”Kan tadi pas sahur aku belum minum susu.”
Hari keempat, Azka puasa sampai jam 12.

Tarawih
Tahun ini ramadhan pertama untuk saya tawarih di mesjid, setelah 6 tahun sebelumnya selalu di rumah dengan alasan jaga anak. giliran mba nya tarawih di mesjid. Tahun ini pun umur Khalif sudah 2 tahun 8 bulan, sudah mulai mengerti saat di nasehati harus diam dan tertib walaupun gak 100%. Namanya anak-anak, lihat anak-anak lain tertawa-tawa dan lari-lari, ikut lari. Suasana mesjid memang sedikit berisik karena banyak anak-anak.
Mesjid di perumahan ini terdiri dari dua lantai, tarawih di adakan di lantai 2, tapi sebagian ibu-ibu sholat di lantai 1 karena sudah tua (gak bisa naik tangga katanya) dan bawa anak, termasuk saya.

Alasan saya mungkin sama dengan ibu-ibu lain, membawa anak-anak ke mesjid sekaligus sebagai ajang pembelajaran. Tapi beberapa ibu terlihat sangat terganggu dengan kehadiran anak-anak, ini membuat saya tak enak hati dan makin mencereweti kedua si kecil saya untuk duduk manis dan tertib karena ini di mesjid tempat orang berdoa, tapi biasanya hanya tahan beberapa menit. Tapi mereka cukup mengerti, tidak teriak-teriak berlebihan.

“Aku ga berisik  Ma, jalan aja, mulutnya di tutup,” janji Azka.
Hari ketiga tawawih di mesjid, saat tarawih rakaat ke tiga Khalifah berteriak kalau dirinya, dengan panik saya menyudahi sholat (duh klo pup jatuh ke sajadah mesjid kan rempong, malu sudah barang tentu) melipat mukena, mukena Azka juga dan setengah berlari mengendong Khalifah pulang. Untung jarak rumah hanya 500 meter dari mesjid.

Toilet mesjid sedang di renovasi total, pancuran untuk wudhu pun di pasang darurat.
Saya tidak mengenakan Khalifah diaper karena sejak bebas diaper beberapa bulan lalu, dia suka menolak saya pakaikan.

Gagal deh tarawih di mesjid.

Rabu, 07 Mei 2014

Semut dan Tinggi Badan Mama


“Ma, semut makannya apa?”  tanya Khalifah (2y6m) tiba-tiba.
“Ehm, gula sama makanan sisa.”
Beberapa jam kemudian Khalifah pup dan saat saya tengah mengcebokinya dia berkata,”Ma, kalau semut di kamar mandi makannya air.”
                                                
“Ma, kok mamanya Sekar besar, kalau mama enggak?” tanya Azka tak terduga.
Setelah mikir beberapa detik mama menjawa,”Karena makannya banyak.”
“Emangnya mama makannya sedikit ya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Mama bingung gak bisa jawab.
“Ih, mama kenapa? Kenapa mama makannya sedikit?”
“Azka nanti mama jawab di rumah ya.”
Beberapa hari kemudian. Saat mama  depan lapi, Azka keluar dari kamar dan berkata,”Mama, kok mama orang-orang tinggi, mama enggak?”

Mama bingung tapi dalam hati menjawab, memang dari sananya Azka. Mama juga pengennya tinggi semampai hahahha

Kamis, 24 April 2014

Hari Kartini

Baru sempat posting....

Hari Kartini jatuh pada tgl 21 April tapi penyelenggaraan di sekolah Azka diadakan tanggal 17 April karena hari senin gurunya rapat.
Azka merengek ingin pake baju daerah Bali.
“Memang tahu baju Bali seperti apa?”
“Tahu, yang pake rambut panjang segini,”
“Tahu dari mana?”
“Di sekolah tadi aku lihat di buku.”

Kebetulan di dalam perumahan ada salon yang selain menyewakan pakaian pengantin juga beragam baju daerah untuk anak-anak. Sayang  pada tanggal 17 pemilik salon sekaligus tukang rias ada agenda menghias di tempat lain jadi tidak bisa mendandani Azka. Kalau mama yang pasang baju Bali dengan kainnya itu pasti berantakan, belum makein rambut palsunya. Jadi dengan alasan simpel dipilihkan baju kebaya.

Baju di pinjam tiga hari sebelum hari H dan setiap pulang sekolah, Azka memakai kebaya lengkap dengan selopnya untuk main kesana-kemari. Hal baru untuknya.

Saat hari H sedikit  nyesal karena memilih kebaya, kesannya terlalu biasa untuk sebuah kenang-kenangan kartinian masa kecil.


Bukan apa-apa, berpakaian seperti ini kan gak setiap waktu dan tahun depan belum tentu di sekolahnya yang baru mengadakan acara seperti ini. Azka juga nampak sedikit cemburu (saya lihat dari tatapannya dan sesekali berkata, aku ingin pake baju seperti itu) dengan pakaian teman-temannya yang rata-rata blink-blink. Maafkan mama ya sayang...


Rabu, 23 April 2014

Mengenalkan Keanekaragaman Budaya Pada si Kecil Melalui TMII

Kunjungan ke Museum Indonesia di TMII

foto dokumentasi pribadi
Beberapa waktu lalu kami mengajak di kecil Azka Zahra (5y6m) ke Museum Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Awalnya sempat ragu mengajak Azka ke sana. Apa tidak akan membuatnya bosan karena apa yang dilihatnya di sana mungkin tidak menarik untuknya? Apa tidak akan membuatnya pusing karena apa yang dilihatnya tidak ia pahami maksudnya? Tapi ternyata kami salah. Azka antusias pada setiap artepak dan manikem yang dilihatnya. Terlebih ketika kami  sampai di bagian kekhasan daerah yang dimiliki saya dan Abinya (panggilan Azka untuk papanya). Ini lho baju padang, ini lho baju khas sunda, ini lho alat musik angklung, gamelan dan seterusnya. 

Yap, saat menginjak usia batita dan Azka mulai memahami apa yang didengarnya, dilihat dan diucapkannya, Azka mulai  sadar jika mama dan Abinya ‘beda’. Ia terheran-heran saat di Bandung (berlibur atau mudik) saya bicara dalam bahasa sunda dengan seluruh kerabat dan anggota keluarga di sana. Saat di Jakarta, Azka mengernyitkan dahi dengan bahasa dan logat bicara Abi dan kerabat di sana.

Kamis, 10 April 2014

Nonton Berita

“Ma, aku nonton ya,” kata Azka dengan nada hati-hati. Tahu mamanya suka nyolot kalau dimintai ijin nonton.
“Baru juga jam 4, belum ada film kartun,” Mama melirik jam di  dinding. “Masih berita.”
“Aku nyalain aja ya tv nya buat mama nonton. Kasian mama gak pernah nonton,” Azka cengengesan.
“Ga apa-apa mama gak nonton.”

“Tapi kan mama suka nonton berita.” Dalam hati mama tertawa. Heuheu ini yang nawarin nonton kok maksa. 

Aku mau dapat piala

Setiap hari rabu Azka les nari di sekolahnya. Bukan tari daerah tertentu dengan gerakan yang biasanya  sulit, tapi tari hasil kreasi gurunya. Tapi jika dilihat dari gerakan dan musik pengiringnya yang lembut , dugaan saya diadopsi dari gerakan tari daerah hanya yang diambil gerakan yang mudah dan gampang diingat anak.

Akhir bulan maret, Azka dan beberapa temannya terpilih mewakili sekolahnya di lomba tari se taman kanak-kanak Ciputat, yang diadakan di Perguruan Islam Asyukro .  Karena sekolah Azka datang pagi untuk melakukan daftar ulang dan persiapan (ganti baju dan dandan), jadilah sekolah Azka naik ke panggung urutan ke 3, dari 60 an peserta.

Niat kami tak menunggu acara sampai selesai tentunya, setelah  Azka tampil ya pulang. Tapi tanpa di duga Azka gak mau pulang. Ia  ingin menunggu sampai dapat piala.
“Iya, tapi aku ingin piala!”



Berbagai rayuan dan hadiah ini itu agar pulang Azka tidak bergeming malah nangis. ‘Keukeuh, pengen pulang dapat piala! Duh, kalau gak juara gimana?

Saya jadi teringat obrolan satu hari sebelumnya. Azka menemui saya dan berkata,”Ma, doain aku ya besok menang. Aku ingin dapat piala soalnya.” Saya sempat melongo beberapa detik sebelum mengiakan permintaan Azka. Ga nyangka Azka seserius itu menanggapi lomba Tari. Mama sendiri gak pasang target apa-apa, Azka terpilih saja sudah ‘sesuatu’.

Akhirnya kami meluruskan permintaan Azka menunggu. Bete sudah barang tentu. Untunglah sekitar jam setengah dua belas, kami berhasil merayu Azka untuk pulang, sementara di panggung masih ada peserta yang menari (katanya kemungkinan acara dan pengumuman pemenang jam 3 sore). Rayuannya mainan balok (karena di sana ada stand yang menjual mainan edukatif).

Hari seninnya saya mendapat kabar baik, katanya sekolah Azka meraih juara ke 3, satu dari 4 katagori penilaian yang dilombakan.

Azka masih keukeuh pengen piala di bawa pulang ke rumah. Untunglah pihak sekolah bersedia menggandakan (tapi yang mau bayar hehe) piala jika ada peserta tari yang ingin memiliki. 
Sampai ini ditulis, piala kw nya belum selesai xixixi. Btw, selamat ya Azka.


Kamis, 20 Maret 2014

Pertanyaan Azka

Akhir-akhir ini Azka suka sekali
menonton video klip lagu-lagu Maher Zein, salah satu video klip kesukaannya
lagu Number One For Me. Bercerita tentang kenakalan seorang anak di masa
kecilnya, kini setelah si anak dewasa, ia berjanji untuk selalu membuat ibu
tersenyum. Karena ibunya adalah orang nomor satu untuknya.

Di video itu, tergambar kenakalan
si anak tidak sekalipun membuat si Ibu marah, hanya wajahnya yang terlihat
lelah atau kesal. Untuk jelasnya bisa dilihat di bawah ini;



Dan setiap menonton video itu Azka selalu bertanya
“Kok, gak di marahin sich, Ma?”
Atau,”Mamanya kok gak marah, dia nakal, kan?”
Skat mat buat Mama. Tapi mama tidak mau nampak terlalu bersalah di depan Azka, maka Mama membela diri.

“Kalau nakalnya sekali memang jangan di marahin, kan anak kecil gak tahu kalau itu salah. Mama juga kan marah sama Azka kalau udah mama kasih tahu itu salah atau gak boleh tapi gak nurut.”

Entah jawaban itu belum Azka pahami atau lupa, besoknya setelah menonton video klip yang sama Azka mengulang pertanyaannya. Jawaban mama mirip-mirip yang pertama. Dan entah pada pertanyaan keberapa akhirnya mama mengakhiri jawaban pertanyaan Azka dengan permintaan maaf karena suka marah kalau Azka salah dan gak nurut.

Sejak pertanyaan itu pertama kali muncul sebenarnya mama sudah malu dan merasa bersalah karena mama kurang sabar. Mama kesel kalau Azka sudah mengulur waktu. Di minta sholat pasti mengulur waktu dengan mau ini itu dulu. Di minta matiin tv pasti selalu bilang 5 menit lagi. Di ajak mandi malah lari ke luar dan teriak,”Mandinya nanti aja!”

Sekali lagi, maafin mama ya Azka. Mama akan berusaha lebih sabar.

Minggu, 16 Februari 2014

Stimulasi Kecerdasan dengan cara Seru



Playing is the begining knowledge. Melalui permainan  si kecil belajar banyak hal dengan cara menyenangkan, tidak hanya menstimulasi kecerdasan juga daya konsentrasi anak.


Konsentrasi atau pemusatan pikiran pada satu tujuan berperan penting saat memberikan stimulasi kecerdasan anak, anak dengan rentang konsentrasi panjang bisa menyerap sebuah stimulus dan melakukan suatu hal secara mudah dengan hasil memuaskan.


Beberapa permainan yang menstimulasi kecerdasan dan daya konsentrasi  yang disukai Azka Zahra (4y10m) putri kami ;


Bermain  peran
 
Setelah membacakan sebuah cerita/dongeng, saya meminta Azka berpura-pura menjadi tokoh yang ada dalam cerita itu dan mengulang salah satu adegan dalam cerita itu  atau menirukan suara dan gerak gerik binatang yang menjadi tokoh utama.

Misal, meminta Azka menjadi Wendy yang bersedih karena harus pulang meninggalkan negeri neverland di mana Peterpan berada. Dialog dilakukan secara spontan dan improvisasi.



Permainan  ini mendorong Azka berkonsentrasi mendengarkan cerita yang saya bacakan, membayangkan dan mengingat-ngingat percakapan para tokohnya. Singkat kata permainan ini menstimulasi kecerdasan bahasa, visual spacial (imajinasi) dan melatih saya konsentrasi Azka. 


Ma, lihat, aku jadi kucing , kata Azka

Melalui buku cerita juga saya menanamkan nilai kebajikan dan moral.



Berpetualang seperti Dora the explorer.
 
Dora dan Diego adalah tokoh kartun favorit Azka dan sampai saat ini Azka masih percaya kalau Diego dan Dora itu, ada seperti dirinya (bukan tokoh khayalan) J ini membuat Azka senang bermain  di luar rumah dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Tak perlu dua kali mengajak Azka melakukan permainan  hujan-hujan (tapi lengkap memakai sepatu boot, payung dan jas hujan J) atau layang-layang.


Cara ini menstimulasi kecerdasan naturalis dan gerak tubuh (motorik) Azka. Azka menjadi mudah memahami fenomena alam ketika saya memberikan penjelasan dan mengenal gejala alam. Seperti mendung tanda akan hujan, pelangi akan muncul setelah hujan dan sampah di sungai yang bisa mengakibatkan banjir.


Bermain di luar rumah juga membuat Azka berinteraksi dengan banyak teman sebaya dan ini membuat Azka belajar konsep meminjam, berbagi, bergantian dan memahami orang lain. Singkat kata, ini melatih kecerdasan interpersonal dan intrapersonal Azka.




bermain layang-layang bersama angin

Hujan hujanan
Permainan  gunting tempel, membuat origami dan membuat kreasi mister maker. 

Adalah cara saya mengasah daya imajinasi dan kreatifitas Azka.  Selain itu, permainan kreatif ini membuat motorik halus Azka berkembang cukup baik.

Hasil kreasi Azka


1.    Masak-masakan

Membiarkan Azka berimajinasi dan mengasah kecerdasan interpesonalnya karena bermain dengan temna sebayanya.

2.   Petak umpet

Permaian  favorit kami adalah petak umpet. Khalif tentu saja ikut serta, jadi saya bersembunyi atau menjadi kucingnya dengan Khalif dalam gendongan. Ini melatih imajinasi anak.
4. 


Saya percaya kedekatan emosi antara saya dan anak-anak berpengaruh besar terhadap perkembangan emosi mereka.



Beribadah bersama adalah cara saya merangsang kecerdasan spiritualnya.



Stimulasi semua kecerdasan anak  tentu bukan karena menginginkan mereka menjadi orang super tapi mencari potensi  kecerdasan terbesar yang dimilikinya (bakat) yang kelak akan menjadi skill untuk bekal kehidupannya (profesi)  yang perlu di topang oleh potensi kecerdasan lain dengan porsi berbeda. 

Ya, saya menginginkan si kecil Azka Zahra (4y10m) kelak sukses dalam kehidupannya. Sukses dalam arti luas; mandiri, berpengaruh positif pada lingkungan sekitarnya, cerdas secara spiritual, tangguh dan bahagia. Untuk mencapai itu saya perlu menstimulasi semua kecerdasan yang dimiliki Azka.


Nutrisi untuk Kecerdasan

Stimulasi  yang saya berikan tidak  akan membuat tumbuh kembang mereka optimal jika tidak dibarengi dengan pemberian nutrisi yang tepat.  Salah satunya DHA atau asama lemak omega 3 yang membantu   pertumbuhan otak, melindungi sel –sel otak serta memastikan otak dan retina mata bekerja dengan optimal. 



Stimulasi pun harus dibangun  dalam suasana hangat, penuh cinta dan kasih sayang. Atau penerapan  pola asah, asih dan asuh.  Karena merawat dan mengasuh anak dengan melibatkan perasaan cinta dan kasih sayang membantu tumbuh kembang dan kecerdasan anak lebih optimal.