Kamis, 17 Juli 2014

Sekolah Berangkat Sendiri

Hari keempat sekolah, Azka merengek gak mau dianter mama tapi pengen ngojek. Alasannya udah lama aku gak pergi sekolah sendiri. Saat TK Azka di antar jemput sekolah sama pak satpam perumahan kami dengan motor, langganan ojek perbulan.

Sekolah Azka lumayan jauh jadi kami memutuskan Azka langganan antar jemput mobil sekolah. Tapi mulainya abis lebaran. seminggu ini rencananya mama yang antar tunggu sekolah, supaya kalau ada pengumuman apa-apa dari sekolah mama tahu dan mama mau kenalan sama-sama mama teman Azka supaya kalau ada apa-apa, walaupun jarang nongol di sekolah info soal sekolah up date.

Jadi permintaan Azka naik ojek saya tolak , Azka nangis dan tetap maksa pengen naik ojek sendiri.
Abinya jadi marah dan mengancam Azka gak usah sekolah hari ini. Tangis Azka makin menjadi tapi akhirnya mau dianter mama.

Masa-masa Azka masuk sekolah selalu berlalu tanpa 'drama' Azka pengen dianter dan ditunggu mama, juga saat dia pertama kali masuk play group, mungkin krn terbiasa di tinggal mama kerja. Sekarang mama udah di rumah, kira-kira nanti Khalifah kalau masuk sekolah ada 'drama' gak ya....

Rabu, 16 Juli 2014

Buka Puasa di Mesjid

Azka : Ma, aku nanti buka puasa di mesjid ya?
Pertanyaan ke sekian kalinya selama bulan ramdhan-puasa gak puasa Azka tajil di mesjid karena bersamaan dengan pengajian sore di mesjid usai.
Mama : Iya
Mama gak pernah melarang Azka tajil di mesjid.
Azka : Nanti aku bawain mama hadiah, lontong dua.
Itu baru pertama kali diucapkan Azka padahal setiap tajil di mesjid selalu membawa oleh-oleh lontong isi oncom pedas kesukaan mama hehehe

Selasa, 08 Juli 2014

Ramadhan Pertama

Belajar puasa
Hari pertama Azka puasa ‘full’ sampai sore. Sebenarnya gak full banget, karena sekitar jam 11 Azka dengan sembunyi-sembunyi minum air putih tapi tertangkap basah hehehe. Saya ingatkan kesalahan itu dan memintanya melanjutkan puasa sampai magrib.
Hari kedua, sebelum jam 10 pagi Azka sudha merengek minta buka karena melihat adiknya makan. Kami menahan keinginannya sampai jam 12 siang.
Hari ketiga, Azka puasa ‘full’, tapi pas adiknya bangun tidur (pagi) Azka mengajak adiknya minum susu kotak barengan. Waktu saya tegur dengan polos Azka bilang,”Kan tadi pas sahur aku belum minum susu.”
Hari keempat, Azka puasa sampai jam 12.

Tarawih
Tahun ini ramadhan pertama untuk saya tawarih di mesjid, setelah 6 tahun sebelumnya selalu di rumah dengan alasan jaga anak. giliran mba nya tarawih di mesjid. Tahun ini pun umur Khalif sudah 2 tahun 8 bulan, sudah mulai mengerti saat di nasehati harus diam dan tertib walaupun gak 100%. Namanya anak-anak, lihat anak-anak lain tertawa-tawa dan lari-lari, ikut lari. Suasana mesjid memang sedikit berisik karena banyak anak-anak.
Mesjid di perumahan ini terdiri dari dua lantai, tarawih di adakan di lantai 2, tapi sebagian ibu-ibu sholat di lantai 1 karena sudah tua (gak bisa naik tangga katanya) dan bawa anak, termasuk saya.

Alasan saya mungkin sama dengan ibu-ibu lain, membawa anak-anak ke mesjid sekaligus sebagai ajang pembelajaran. Tapi beberapa ibu terlihat sangat terganggu dengan kehadiran anak-anak, ini membuat saya tak enak hati dan makin mencereweti kedua si kecil saya untuk duduk manis dan tertib karena ini di mesjid tempat orang berdoa, tapi biasanya hanya tahan beberapa menit. Tapi mereka cukup mengerti, tidak teriak-teriak berlebihan.

“Aku ga berisik  Ma, jalan aja, mulutnya di tutup,” janji Azka.
Hari ketiga tawawih di mesjid, saat tarawih rakaat ke tiga Khalifah berteriak kalau dirinya, dengan panik saya menyudahi sholat (duh klo pup jatuh ke sajadah mesjid kan rempong, malu sudah barang tentu) melipat mukena, mukena Azka juga dan setengah berlari mengendong Khalifah pulang. Untung jarak rumah hanya 500 meter dari mesjid.

Toilet mesjid sedang di renovasi total, pancuran untuk wudhu pun di pasang darurat.
Saya tidak mengenakan Khalifah diaper karena sejak bebas diaper beberapa bulan lalu, dia suka menolak saya pakaikan.

Gagal deh tarawih di mesjid.

Selasa, 03 Juni 2014

Sayang Abi

Suami saya kerap iri melihat bagaimana kedua anak kami, Azka dan Khalifah, mengungkapkan rasa sayangnya pada saya. keduanya suka minat dipeluk dan mencium saya tanpa diminta.

Bukan berarti mereka lebih sayang sama saya dari pada Abinya lho, hanya sepertinya mereka memiliki cara berbeda untuk mengungkapkannya. Jika Abinya libur kerja dan ada di rumah, Khalifah pasti memaksanya main mobil-mobilan. Kalau Azka, mulutnya yang tak bisa diam, cerita ini itu. Kontak fisik seperti peluk, cium dan gelendotan mereka ke Abinya kurang di banding ke saya. Dan keduanya kompak tidak mau didekati Abinya saat menjelang tidur, malah di usir.

Salah satu sebabnya mungkin karena mereka tidak pernah melihat Abinya saat menjelang tidur karena pekerjaan (plus macet, dedikasi dan passion, katanya-karena tak ada jam lembur untuk posisinya) selalu pulang  malam hampir setiap hari kerja.

Jadi momen yang saya tangkap dengan kamera beberapa minggu lalu ini adalah hal yang langka. Tiba-tiba Khalifah yang main balok dan mobil-mobilan naik ke punggung Abinya  dan tiduran di sana tanpa sepatah katapun terucap.



postingan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Cimoners katagori FOTO

Minggu, 11 Mei 2014

Bermain itu seru dan asik!

Putri kami Azka sulit sekali di minta tidur siang dan mulai menular pada adiknya Khalifah (2y6m). Bukan karena tidak bisa lepas dari gadget atau nonton lho. Untuk dua hal itu saya cukup ketat. Gadget hanya weekend, hari biasa kalau  kepepet, misal untuk meredakan tangisan Khalifah saat ditinggal sholat atau masak.

Nonton saya satu jam pulang sekolah dan satu jam sebelum magrib. Sisanya kalaupun tidak tidur siang, no tv no gadget. Jadi apa yang dilakukan Azka jika tidak tidur siang? Azka tak pernah kehabisan ide untuk main sendiri atau berdua Khalifah, apalagi jika sama teman-temannya, rumah dan pekarangan  jadi kapal pecah.
Ancaman, kalau tidak tidur siang, nanti sore tidak boleh nonton tidak mempan. Jadi biasanya saya memaksa Azka tidur dengan mengeloninya, tapi tidak selalu berhasil, lebih seringnya saya ketiduran, Azka bangun dan main sendiri.  Niatnya mencoba tegas tapi sering berujung emosional. Memarahinya lalu menyesalinya. Akhirnya, saya lebih sering membiarkan Azka tidak tidur siang.



Sisi positif hobi bermain Azka yang saya lihat dan sangat menonjol adalah, ia tumbuh menjadi anak yang cukup percaya diri. Tidak  perlu waktu lama beradaptasi jika kami bawa ke tempat baru. Misal ke mall, tempat eduwisata, ke rumah kerabat atau teman kami (saya atau suami). Jika dia melihat anak seusianya ada di sekitar situ, dia akan berinisiatif mendekatinya, awalnya dengan wajah malu-malu sambil senyum-senyum, tak lama terlihat keduanya tertawa-tawa. Sayangnya Azka selalu lupa menanyakan nama teman barunya. Dan tak takut mencoba hal baru dan suka berimajinasi.


Menonton video Kids Today Project dari Rinso Menjadi Seorang Anak Kecil Indonesia makin membuat saya belajar melihat dunia bermain anak-anak dari kaca mata mereka. Tak memaksakan kehendak tapi tak bosan menasehati dengan penjelasan sebab akibat. Membantu memuaskan keingintahuan mereka walaupun rumah jadi berantakan dan pakaian mereka kotor. Saya pun jadi ingin tahu kenapa Azka suka sekali bermain,”Kenapa sih pengen main terus?” sebuah pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

“Soalnya main itu seru dan asik!” jawab Azka sambil nyengir.



Semoga bukan hanya saya, mama yang terinspirasi dengan video - video kampanya Kids Today Project Rinso Indonesia. Menginspirasi untuk belajar memahami dan memandang dunia anak-anak dari kaca mata mereka. Tidak mudah memberi label nakal karena paham bermain adalah cara mereka belajar. 

Tulisan ini diikutsertkan dalam kompetisi blog Kids Today Project Rinso Indonesia

Sabtu, 10 Mei 2014

Kebutuhan Rasa Aman Anak-anak



Menonton video kids Today Project yang di gagas Rinso membuat saya merenung. Bagaimana kedua si kecil saya beradaptasi dengan ‘keriuhan’ kota besar di mana mereka tinggal.  Bisa dikatakan, saya memaksa anak-anak beradaptasi. Dari soal macet, banjir, dan pembatasan area bermain karena khawatir adannya pelaku kejahatan dan penculikan.

Si kecil Azka sudah merasai berdesakan di komuterline dan busway. Dengan polosnya dia berteriak,”Mama, panas banget sih!” “Mama, kok bisnya gak jalan-jalan. “
Pada saat bersamaan, Azka memasuki tahap merasa dirinya sudah besar dan bisa melakukan segalanya sendiri, termasuk melindungi diri sendiri. 

“Ok, nanti kalau ada yang pegang-pegang, aku tendang, Ma.” Atau,”Ma, aku bisa kok ke warung sendiri, kalau ada penculik, aku nendang dan pukul saja.” Atau,”Kalau ada mobil atau motor aku kepinggir kok, Ma.”

“Kalau gak ada penculik aku boleh pergi sendiri ke mana-mana ya, Ma.”
“Iya.”

“Kalau aku nanti jadi polisi, aku tangkap semua penculik anak kecil.” Yap, si kecil Azka ingin bisa bermain, ke warung, dan  sepeda keliling komplek sendiri dengan rasa aman tak heran, Azka kerap berkhayal jika sudah besar Azka ingin menangkap penculik dan pelaku kejahatan, menjadi polisi. Walaupun cita-citanya masih berubah-rubah tapi jika menyangkut kata penjahat dan penculik, seketika keinginannya menjadi polisi mencuat.



Keamanan anak-anak tanggung jawab siapakah?
Saya yakin, semua orangtua khususnya yang memiliki anak kecil, memiliki kekhawatiran yang sama dengan dengan saya. Apakah anak-anak kita aman saat melepaskan untuk bersekolah dan main? Terlebih setelah ada beberapa kasus pelecehan seksual terhadap anak baru-baru ini.

Anak-anak umumnya belum  menyadari bahaya pelecehan seksual yang mengintai mereka  karena mereka belum paham. Seperti rentetan pertanyaan Azka (6y) saat saya menerangkan soal bagian tubuhnya yang harus di tutup dan dilindungi. Kenapa di sebut daerah pribadi, Ma? Kenapa orang mau memegangnya, Ma? Di sakiti gimana, Ma?

Menurut saya rasa aman yang dibutuhkan seorang anak agar bisa menikmati masa ‘bermainnya’ dan tumbuh kembangnya optimal, haruslah di bangun secara kolektif, tidak cukup dengan pembekalan dari orangtua, sistem harus mendukung. Menciptakan sistem agar sekolah aman dari kasus pelecehan seksual dan kekerasan. Bukan hanya mengandalkan teknologi tapi membangun komunikasi antara guru, murid dan wali murid dengan intens dan efektif. Mungkin di sini peran POMG  (persatuan orangtua murid dan guru) yang ada di tiap sekolah perlu ditingkatkan.

Dan sistem dalam pemerintahan yang mendukung agar pelaku pelecehan seksual dan kekerasan pada anak dihukum berat.

Saya berharap video Rinso Kids Today Project ini menggugah semua pihak, bahwa anak-anak perlu dukungan kita, orangtua dan sistem, untuk beradaptasi dengan ‘keriuhan’ kota dan menciptakan rasa aman untuk tumbuh kembangnya.


Anak adalah tunas dan generasi penerus bangsa, apa jadinya jika sebagian dari mereka tumbuh dalam kondisi trauma atau kungkungan ketakutan karena sistem tidak mendukung  mereka merasa aman?  Masa bermain mereka akan hilang yang artinya salah satu proses pembelajaran alamiah mereka mati.

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KidsTodayProject Rinso Indonesia

Rabu, 07 Mei 2014

Semut dan Tinggi Badan Mama


“Ma, semut makannya apa?”  tanya Khalifah (2y6m) tiba-tiba.
“Ehm, gula sama makanan sisa.”
Beberapa jam kemudian Khalifah pup dan saat saya tengah mengcebokinya dia berkata,”Ma, kalau semut di kamar mandi makannya air.”
                                                
“Ma, kok mamanya Sekar besar, kalau mama enggak?” tanya Azka tak terduga.
Setelah mikir beberapa detik mama menjawa,”Karena makannya banyak.”
“Emangnya mama makannya sedikit ya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Mama bingung gak bisa jawab.
“Ih, mama kenapa? Kenapa mama makannya sedikit?”
“Azka nanti mama jawab di rumah ya.”
Beberapa hari kemudian. Saat mama  depan lapi, Azka keluar dari kamar dan berkata,”Mama, kok mama orang-orang tinggi, mama enggak?”

Mama bingung tapi dalam hati menjawab, memang dari sananya Azka. Mama juga pengennya tinggi semampai hahahha